Lewati ke konten utama
BookOpen AccessTerbit 2022Versi 1

HADITS BUDAK PEREMPUAN HITAM (Hadîts al-Jâriyah as-Sawdâ’) DAN PENJELASAN ALLAH ADA TANPA TEMPAT

Koleksi Perpustakaan•NURUL HIKMAH PRESS•7 dilihat · 0 unduhan

Abstrak

Kata Pengantar Ada dua metode untuk memaknai ayat-ayat mutasyabihat yang keduanya sama-sama benar: (Pertama): Metode Salaf. Mereka adalah orang-orang yang hidup pada tiga abad hijriyah pertama. Yakni kebanyakan dari mereka mentakwil ayat-ayat mutasyabihat secara global (takwil ijmali), yaitu dengan mengimaninya serta meyakini bahwa maknanya bukanlah sifat-sifat jism (sesuatu yang memiliki ukuran dan dimensi), tetapi memiliki makna yang layak bagi keagungan dan kemahasucian Allah tanpa menentukan apa makna tersebut. (Kedua): Metode Khalaf. Yang disebut dengan Takwil Tafshili. Mereka mentakwil ayat-ayat mutasyabihat secara terperinci dengan menentukan makna-maknanya sesuai dengan penggunaan kata tersebut dalam bahasa Arab. Sebagaimana para Ulama Salaf, para Ulama Khalaf tidak memahami ayat-ayat tersebut sesuai dengan zahirnya. Dalam memahami hadits al-Jariyah, kaum Musyabbihhah --(variannya di zaman sekarang adalah golongan Wahhabi)--, memaknainya dalam makna zahirnya. Mereka meyakini “Allah di atas langit”, atau sebagian mereka mengatakan “bertempat di langit” dengan dasar pemahaman keliru terhadap hadits ini. Musibah terbesar kaum Musyabbihah sesungguhnya adalah karena mereka sangat anti terhadap takwil. Bahkan berkembang di kalangan mereka semacam kaedah --yang mereka buat sendiri-- mengatakan “al-Mu’awwil Mu’ath-thil”; (seorang yang melakukan takwil maka ia menginkari teks-teks syari’at). Kholil Abu Fateh (Al-Asy’ari asy-Syafi’i ar-Rifa’i al-Qadiri)

Kata kunci

Hadits II

Informasi bibliografis

Versi dan riwayat publik

  1. Versi 1HADITS BUDAK PEREMPUAN HITAM (Hadîts al-Jâriyah as-Sawdâ’) DAN PENJELASAN ALLAH ADA TANPA TEMPAT2022 · oai:ais:library-item:16755

Publikasi terkait